#16: tentang kembali ke aku yang kukenal, menjadi anak sungai di tengah hutan hujan
"Aku kembali menemukan api kecilku dan hidup (meski dalam keterbatasan) tampak begitu menarik. Aku ingin melakukan banyak hal dan membuat banyak hal dan mengalami banyak hal dan menjadi banyak hal!"
23 April 2026
Halo,
Belanja bulanan. Photo by Ben Laksana.
Sebentar lagi bulan Mei dan tak terasa hampir separuh 2026 telah berlalu. Bagaimana kabarmu? Semoga kabarmu baik, sehat dan masih diselingi hari-hari yang membuat hatimu penuh. Banyak sekali hal terjadi dalam hidupku semenjak rilisnya podcast tahunan Benang Merah edisi 2025. Begitu banyak sampai aku bingung harus mulai dari mana! Sebelum menulis jurnal kali ini, aku membaca ulang jurnal terakhir yang kutulis di sini sebagai pemanasan (juga kilas balik kehidupan, sesuatu yang sering aku lakukan sejak zaman tumblr hehe). Juni 2025. Hmm, aku lupa kalau aku pernah segelap itu. Padahal aku ingat sepanjang tahun lalu, perasaan-perasaan itu begitu nyata dan berat, seperti pasung yang menggantung di kaki kanan, membebani setiap langkahku. Aku selalu terpukau dengan bagaimana pikiran dan perasaan manusia bekerja, kok bisa berubah begitu drastisnya. Apa mungkin ini karena aku seorang Gemini rising/Scorpio Moon/weton Legi/golongan darah B/darah rendah/keturunan Madura-Tegal peranakan/combination-eczema & rosacea prone skin/high-porosity hair? Atau mungkin, aku orang yang cepat lupa saja haha.
Saat ini aku sedang menulis dari perpustakaan kota di Wellington, di salah satu ruangan kaca yang menghadap Mount Victoria—aku bisa melihat rumah lamaku yang sangat dingin itu dari sini. Setelah tutup selama 7 tahun, perpustakaan kota Wellington akhirnya dibuka 14 Maret lalu. Ah, momen yang sangat sangat aku nantikan sejak pindah ke kota ini tahun 2023 lalu. Saking semangatnya, pas pembukaan, aku dan Ben mengantre selama hampir 2 jam bersama 4,000 warga kota (!) untuk merayakan dibukanya kembali perpustakaan ini! Setibanya kami di pintu masuk perpus, kami disambut 300 anggota paduan suara yang tersebar di berbagai titik perpus. Mereka bernyanyi dengan begitu indah dan megah, favoritku ketika mereka menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Māori. Magis. Semuanya terasa seperti sebuah ritual. Aku suka ritual. Ritual, terutama dalam keseharian, membuatku merasa hadir sepenuhnya, dalam tubuhku, dalam suatu waktu juga ruang itu. Belakangan akupun merasa lebih hadir di dalam dan sebagai diriku. Aku lebih sering memerhatikan gerak awan, serangga-serangga kecil yang bermain di atas rumput, hempasan angin yang menggulung permukaan genangan air di taman kota selepas hujan, perbedaan intensitas koor tonggeret di akhir musim panas, juga suara-suara lembut di dalam diriku sendiri yang sering kukubur dengan kebisingan pikiran dan kekhawatiran.
Bikin pesta bubur ayam buat teman-temanku di sini. Muka bantal. Photo by Ben Laksana.
Aku sekarang memang punya banyak waktu luang. Setelah maju mundur selama setahun ke belakang (kalian bisa baca pergumulanku di jurnal-jurnal sebelumnya), aku akhirnya mengakhiri pekerjaanku di kampus pada akhir Maret lalu (selamat tinggal guru BK era~). Aku menulis dua pidato perpisahan—satu untuk murid-muridku dan satu untuk timku—dan menutup waktuku di sana dengan hati yang penuh.
Tulisan tangan yang semakin lama semakin kecil.
Di hari-hari terakhir bekerja, aku merasakan tarik ulur yang kencang antara ketakutan (akan masa depan yang tak tentu a.k.a. hidup tanpa penghasilan di negara orang) juga kemerdekaan (untuk sekali lagi punya kendali atas hidup yang selaras dengan apa yang aku inginkan—yakni berkesenian :’). Namun aku tak terlalu larut, dan malah berakhir dengan perpisahan yang mengharukan. Timku membuat acara, video juga pesan-pesan perpisahan buatku yang sangat menyentuh. Akupun diingkatkan sekali lagi, betapa tak ada yang sia-sia.
Sebuah memeowrabilia.
Ada yang berubah dalam diriku setelah mengambil keputusan ini, tepatnya beberapa detik setelah melayangkan surat pengunduran diri itu. Aku merasa berani, merdeka juga sedikit gila? Haha. Saat mengambil keputusan itu, aku benar-benar belum ada rencana selain fokus berkarya dan hidup mantab (makan tabungan) untuk tahun ini. Kalau memang gak memungkinkan, aku pikir yaa bisa cari kerja-kerja paruh waktu buat mengganjal kehidupan supaya tetap bisa bayar sewa rusun, atau memang kalau separah itu, pulang sejenak bukan pilihan yang buruk juga, begitu kupikir. Bisa main sama Fuko Fukimei setiap hari. Aku sadar betul kalau sebagian dari keberanian ini datang dari posisi privilese tertentu, karena mungkin aku tahu, sejatuh-jatuhnya, akan ada jaring pengaman yang menahanku untuk tidak terjerembab ke dalam jurang kemiskinan. Meski begitu realitanya, ternyata untuk sampai pada pilihan ini, butuh kekuatan juga dan hal-hal immaterial lainnya yang memungkinkanku mempraktikkan kendali atas hidupku ini. Benar-benar studi kasus structure-agency klasik. Aku bisa membayangkan setiap harinya Ben, si sosiolog yang sekarang udah jadi dogtor, menganalisis keputusan-keputusanku dalam diam sambil mencatat temuannya di dalam notes appnya hahaha.
Minggu pertama pindahan ke rusunawa. Kursi masih ada harganya. Photo by me.
Musim dingin datang lebih cepat di New Zealand. Beberapa minggu lalu kami diterjang Siklon Vaianu, dan seminggu ini Wellington terdampak banjir bandang akibat cuaca ekstrem. Belum Agustus tapi suhu rata-rata sudah turun di bawah 10 derajat, dan tubuh-tubuh tropis ayam sayur ini terpaksa menerima kenyataan kalau musim panas sudah selesai. Sedih.. Bau-bau winter blues sudah bisa aku cium, dosis suplemen vitamin D harus mulai kudobel. Padahal seminggu yang lalu aku dan Ben masih berenang-berenang di Teluk Matapōuri.
Berenang dan main ombak di Matapōuri Bay. Photo by Ben Laksana.
Awal April lalu, aku dan Ben diundang oleh teman baik kami, Betty, untuk residensi di rumah keluarganya di Teluk Matapōuri. Dia bilang, ini momen yang pas buat kami ambil jeda sejenak—Ben baru selesai sekolahnya, dan aku keluar dari pekerjaanku. Selain itu, aku dan Ben memang belum pernah explore daerah utara New Zealand dan udah banyak dengar tentang suasana rumahnya; ada kebun, ada food forest, seberang pantai yang airnya hangat dan cuacanya lebih panas dari Wellington. Akhirnya kami mengiyakan untuk residensi selama sekitar dua minggu di sana. Aku membuat musik dan Ben fokus menulis artikel panjang lanjutan dari tesisnya juga pastinya masak-masak (si paling master chef). Meskipun ternyata cuacanya tidak secerah yang kami harapkan (yaa itu, diterjang siklon), aku dan Ben sangat menikmati residensi ini. Setiap hari bisa panen salad, cabe, kale dari kebun, daun dan jantung pisang dari food forest, juga herbs lainnya yang tumbuh di sekitar rumah yang kami tinggali yang mereka namakan The Bure. Pagi selalu disambut iringan konser tunggal tui, dengan musisi latar debur ombak dan angin lembab, malamnya ada paduan suara tonggeret penanda musim panas, dan teriakan burung hantu ruru yang sibuk mencari mangsa ngengat yang menari-nari di dekat sumber cahaya. Baik sekali ya temanku Betty ini bisa kepikiran menghadiahkan kami waktu, tiba-tiba aku jadi terharu. Aku sayang teman-temanku.
Selamat datang di Matapōuri. Foto-foto lainnya bisa dilihat di sini. Photos by Ben Laksana.
Ngomong-ngomong, banyak yang bilang berteman di New Zealand itu susah sebagai orang luar, dan jujur, aku gak menyangkalnya. Sewaktu aku studi S2 di sini, hanya sedikit sekali teman warlokku, itupun kebanyakan adalah perpanjangan dari teman-teman Ben sebelumnya. Mungkin karena waktu sekolah, aku fokus belajar (maaf habitusku tetap bocah Asia yang (((malu))) kalau nilainya jelek) dan selain itu akupun tahu kalau aku cuma sebentar di sini, cuma gentayangan, jadi rasanya gak perlu investasi perasaan terlalu dalam di dalam hubungan-hubungan pertemanan ini. Banyak teman-teman yang ~ study abroad ~ mungkin cukup beresonansi ya dengan pengalaman ini. Tapi, berteman dengan warga lokal di New Zealand banyak tantangan sosio-kulturalnya juga aku rasa. New Zealand bukanlah negara yang besar (gak seperti kita ya, bangsa ya besar!!) jadi sirkel pertemanan teman-temanku tuh memang kecil, dan kemungkinan besar masih terus sama sejak mereka paud sampai kerja. Ketika ada orang asing masuk, agak-agak, “eh anda siapa ya?”. Tapi kalau irisan diagram venn-nya bertemu (yang di mana secara kultural terkadang susah karena budaya orang Indonesia dan New Zealand aku rasa agak berseberangan), pertemanannya bisa sepanjang hidup. Setidaknya, itu yang aku rasakan sejauh ini.
Aku dan Betty beberapa bulan lalu, berenang di lautan rumput laut. Berasa jadi miso soup. Photo by Ben Laksana.
Sewaktu residensi, temanku sebenarnya sedang gak tinggal di sana, jadi dia menitipkan aku dan Ben untuk nongkrong dengan ibunya. Kalau membayangkan di konteks Indonesia, kok kurang masuk ya hahaha. “Men, kamu residensi di rumahku di Arcamanik ya, nanti di sana kamu nongkrong selama dua minggu sama ibu dan bapakku sambil bikin karya.” Agak ngakak ngebayanginnya. Tapi di Matapōuri, semuanya mengalir dan bahkan seru sekali. Aku, Ben dan ibunya Betty, Susan, bertukar banyak sekali cerita dan sejarah keluarga (bayangkan adegan album foto keluarga sudah keluar di sini). Di malam terakhir, aku mempresentasikan album mini yang aku tulis terinspirasi dari tanah dan rumah ini kepada keluarga juga tetangga-tetangga desa, lalu kami menutup malam dengan fine dining a la chef Ben Laksana: ayam bakar kecap ketumbar, tumis jantung pisang, aneka sambal dan lalap, dan nasi daun jeruk. Kami ngajarin ibu, kakak dan teman kakaknya Betty untuk makan pakai tangan, pertama kali dalam hidup mereka ceunah. Now playing: Sabilulungan.
Si paling jago masak juga bacot, dengan gerakan tangan italianonya. Photo by me.
Sore ini, aku masih duduk di perpustakaan kota Wellington menghadap pemandangan kota dari sudut yang berbeda dari sebelumnya dan kini mulai bingung, nulis apa lagi ya? Sebulan ini aku memang sedang lebih banyak lepas dan bahagia. Kenapa jadi merasa bersalah ya, haha. Ada benarnya juga kata orang, kalau hidup sedang baik-baik saja, rasanya sulit untuk membuat karya. Tapi mengingat selama dua tahun terakhir hatiku begitu berat, sepertinya aku harus bisa menikmati momen ini seutuhnya, sebab semua ini hanyalah sementara. Aku pernah tanya ke Ben, “’Kan kamu udah selesai sekolahnya, ada rencana balik ke fotografi lagi gak? Bikin karya atau apa gitu?” Dia bilang, belum ada, karena dia lagi ingin fokus menikmati dan mengalami hidup aja. “Fotografi, atau bikin karya, kadang malah menginterupsiku untuk sepenuhnya mengalami hidup”, katanya, dengan gerakan tangan khas italianonya. Aku setuju dengan Ben, dan itu juga kenapa aku percaya musisi atau seniman harus tetap mengalami hidup (seperti dan bersama orang kebanyakan). Kadang memang kerasa di karyanya kalau musisi itu cuma fokus memproduksi karya/album cepat-cepat setiap tahunnya, ceritanya itu-itu saja dan bahkan perspektifnya seperti terjebak dalam gelembungnya sendiri. Stuckedness dan mengulang-ulang, mungkin adalah salah satu ketakutanku dalam berkarya. Tapi tentu hal ini bukan sesuatu yang terlalu memusingkan buatku, bikin karya aja jarang-jarang!
Sudah tepat sebulan aku tidak bekerja dan rasanya aku kembali ke diriku era 2020-2023. Aku kembali menemukan api kecilku dan hidup (meski dalam keterbatasan) tampak begitu menarik. Aku ingin melakukan banyak hal dan membuat banyak hal dan mengalami banyak hal dan menjadi banyak hal! Aku tahu betul aku tidak akan bisa mencapai semuanya tapi kembalinya perasaan ini rasanya begitu menguatkan. Seakan mengafirmasi, “iya sih, ini kamu yang aku kenal”. Satu per satu lapis kehidupanku aku tata, mulai dari ritual pagiku yang hilang sejak harus kerja kantoran—bangun pagi, minum air hangat, qi gong/yoga, makan telur rebus, minum kopi hitam, ke gym kota seminggu dua kali untuk mat pilates sama oma-oma (masih belum mampu reformer pilates bu di sini haha) dan renang/lari sore, lebih banyak masak dan makan di rumah (hmm tipikal pekerja rentan nih haha), lebih sering ke kebun, melamun, menulis dan mencatat kehidupan dan meluangkan lebih banyak waktu di alam. Kalau dilihat-lihat, aku tipe orang yang jiwanya bersinar dan mekar ketika aku punya waktu (aku tidak anti kerja~ meskipun tetep I don’t dream of labour)—lah ternyata cita-cita tertinggiku adalah menjadi seorang pensiunan! Mungkin itu kenapa kerja lepas/work from anywhere adalah konfigurasi kerja yang paling tepat buat orang-orang sepertiku dan kini, tanpa berpura-pura kuat lagi, aku menerimanya sebagai diriku.
Selain itu, aku juga menerima kalau aku tidak ingin menjadi besar. Aku jadi ingat, di ujung residensi OneBeat di Amerika pada tahun 2023 lalu, aku sempat mengunjungi teman lamaku di New York, dia asalnya dari Hong Kong tapi sudah menetap di Amerika cukup lama. Suatu ketika ia minta ditemani ke Chinatown, spesifiknya ke tukang poles giok untuk mengambil giok dan gelang kristalnya yang sudah selesai dipoles. “Di tempat ini bisa baca Fengshui juga loh, kamu coba deh!”, katanya. Akhirnya aku dibacain secara cepat-santai saja oleh ibunya. Gak usah bayar, katanya. “Elemen kamu air, tapi bukan yang besar. Air kecil yang mengalir, kamu adalah sungai.” Ooh gitu. Waktu itu aku gak terlalu paham, selewat aja dan pulang dengan ingatan akan kata-kata ibunya itu. Tapi sekarang aku mengerti, bahwa memang ada hal-hal yang membawa sukacita dan ketenangan yang mendalam untuk diri kita karena ia mencerminkan diri kita yang sebenarnya. Aku bisa melihatnya sekarang di hara. Begitu jelas dan tembus pandang. Dalam berkarya, aku tidak bisa memaksakan diriku menjadi lautan yang luas, besar, dan mampu menampung semua. Bukan itu peran yang kupunya. Dan sekalipun karyaku suatu saat bermuara ke samudera, ia pasti akan kembali pulang... menjadi anak sungai, mengalir pelan di tengah hutan hujan. Dan ini semua sudah semestinya.
Salam hangat dariku yang sedang kedinginan,
hara
Berikut beberapa hal yang sedang aku sukai:
Mendengarkan satu album ini berulang-ulang selama di Matapōuri: Luiz Bonfá (com Norma Suely) - A Voz E O Violão (1960, Álbum)
Menemani pagiku beberapa bulan ini. Mengingatkanku dengan lagu-lagu Sunda! ኢትዮ ጃዝ - በገላኒ ኮፊ | Ethio Jazz at Galani Coffee - Dj Jazzy Dave
Nala Sinephro - Endlessness, untuk hari yang tenang.
Selalu kembali ke toe - Goodbye feat. Asako Toki + Seigen Tokuzawa / THE FIRST TAKE kalau lagi mati rasa dan ingin merasa!!
Menonton konser Bic Runga di Wellington! Suka sama album barunya, terutama lagu It’s like Summertime. Paling jago emang dia meracik perasaan nostalgia.
Lagi super duper obsessed sama Ganavya. Menangis nonton penampilannya di tiny desk.
Satu putaran penuh Piero Piccioni - Romantica untuk menyambut akhir pekan yang cerah di Wellington.
Membaca koleksi Pustaka Langkanya Logos, terutama majalah Api Kartini. Kapan lagi bisa baca kombinasi tulisan “Melawan sisa-sisa feodalisme”, “Sejarah Gerakan Wanita”, “Kulit muka njonja berminjak?” dan “Bagaimana cara menghilangkan tumpukan gemuk di bagian perut”!
Kabar hara:
25 Oktober 2025 lalu aku merayakan ulang tahu hara yang kelima! Alhamdulillah, belum bubar. Dalam rangka itu, aku mengunggah video rekaman dari konser rumah hara for Palestina. Kalian bisa menontonnya di sini.
Akhir tahun lalu aku diajak oleh SingTheWay untuk menulis yel-yel aksi lingkungan untuk turut memprotes COP30 di Brazil bersama masyarakat adat lainnya. Lagu yang kutulis berjudul Rakyat Bersatu, Pasti Menang. Harapannya bisa kita nyanyikan bersama-sama! Aku sempat mengajari teman-teman di Wellington versi Bahasa Inggrisnya, seru! (mereka pernah coba nyanyiin yang Bahasa Indonesia tapi agak kurs yaa hahaha) Lagu ini bebas remix juga, silakan dipakai untuk kebutuhan aksi teman-teman.
Turut mendukung pameran Uma karya Ibu Arsitek, sebagai bagian dari Children’s Art Space pameran Olafur Eliasson di Museum MACAN, Jakarta. Aku membuat sound piece berdurasi 27 menit berjudul Tidur Siang di Pangkuan Ibu. Aku tidak sempat menonton pamerannya tapi kalau ada yang sempat berkunjung, semoga lagunya berkenan ya untuk anak-anak yang bermain di ruangnya.
Sejak Juni 2025 hingga sekarang, aku sempat manggung di beberapa gigs di Welly dan bereksperimen dengan beberapa set baru. Paling terakhir di acara Quarry Concert, manggung tanpa gitar dengan set ambient. Selalu menyenangkan manggung di tengah alam (meskipun ini lokasi bekas penambangan haha).
Photos by Ben Laksana.
Akhirnya lagu yang aku tulis bareng temanku dari OneBeat, Rohan/Dolorblind dari India, rilis juga bulan Maret lalu. Judul lagunya UVB-76, dan liriknya terinspirasi perlawanan ibu-ibu Kendeng dan masyarakat tani lainnya melawan perampasan lahan. Kalau kalian tertarik, cerita di balik lagunya bisa didengarkan di video pendek ini.
Berkesempatan menyanyikan ulang lagu folk Palestina, Yamma Mawil al-Hawa, diperkenalkan oleh teman baikku Sumaia dan kami menyanyikannya bersama-sama di acara pembukaan pameran galang dana untuk seniman Gaza, Mohammad Elshareif.
The biggest project of the year goes to... Menulis komposisi dan menampilkannya secara live untuk film The Wind, acara Live Cinema tahunannya Wellington Film Society! Manggung di bioskop legendaris The Embassy! Dua malam! Akhir Juli! Bareng temanku, Thomas! Aaaah, wish me luck!!
Per tahun ini sampai tahun depan, aku akan memulai perjalanan riset baru sebagai cewek UGM :)) sebagai salah satu peneliti untuk program Re:Sound, Restituting, Reconnecting, Reimagining Sound Heritage.
Last but not least, seperti yang sudah aku ceritakan di atas, aku ingin merilis lagu-lagu yang kutulis di Matapōuri sebelum akhir tahun ini selesai. Semoga tidak ada halangan dan rencana-rencana ini bisa berjalan dengan baik ya. Rencananya untuk rilisan-rilisan ke depannya, aku akan menghindari rilis di Spotify (mungkin streaming secara umum? Aku masih merenunginya) dan fokus ke Youtube untuk multimedia, Bandcamp dan yang terbaru koperasi Subvert.




















Akhirnya yang dinanti ka Rara balik lagi kesini❤️
Sehat-sehat selalu Kak Ben dan Kak Rara